Nov 7, 2013

Tentang menggambar

Saya suka menggambar. Buat saya menggambar adalah cara paling mujarab untuk merekam cerita, pengalaman dan hal-hal yang terjadi sehari-hari (termasuk untuk mencatat apa saja yang sudah saya makan hari ini). Jika orang lain lebih memilih buku harian, saya lebih memilih buku sketsa. Itupun tidak harus berbentuk buku. Bisa apa saja.

Dulu saya menggambar di sembarang kertas. Mulai dari kertas bekas, sisa cetak proposal, koran, bagian belakang kalender dan sebagainya. Sepertinya buku catatan SMA dan kuliah dulu hampir selalu penuh dengan gambar-gambar tak senonoh atau karikatur guru/dosen yang saat itu sedang mengajar.
Menggambar dimana saja itu bagus. (Terutama buat orang yang pelupa seperti saya). Hingga saya menyadari bahwa tindakan tersebut agak salah.

Beberapa bulan belakangan ini, saya kesulitan mengarsip hasil gambar-gambar lama saya. Banyak yang hilang dan tidak diketahui keberadaannya. Dan itu menyedihkan. Saya sempat depresi berat dan kehilangan selera makan. 
Harap maklum jika saya sering menggunakan kata-kata hiperbolik, yang sebenarnya hampir tidak pernah terjadi. Jadi saya tidak depresi berat, apalagi kehilangan selera makan. Intinya, hal tersebut tersebut membuat saya sadar kesalahan saya.

Sekarang saya berusaha tertib dengan menggambar hanya di buku sketsa.

Bohong, deng. Saya tetap menggambar sembarangan. Tapi sekarang saya benar-benar berusaha menggambar di buku dengan lebih hati-hati.

Kenapa hati-hati? Karena buku sketsa bisa jadi portfolio seorang ilustrator. Apalagi jika kita dalam rangka ingin serius mendalaminya.

Saya masih dalam tahap belajar. Sejujurnya gambar saya tidak bagus-bagus banget. Mungkin buku sketsa saja juga ngga ada harganya lah. Tapi saya rasa tidak ada yang salah dengan itu. Kalo tidak salah, Voldemort bilang, “Tidak ada yang benar atau salah. Yang ada hanyalah yang kuat atau lemah.” Ngga ada hubungannya, sih.

Jika melihat coretan saya beberapa tahun kebelakang, saya malu. Mungkin rasa malunya sama seperti malu mengingat email semasa sma dulu. Najis banget. Saya ngga berpikir gambar saya sekarang sudah oke. Buktinya saya masih mengaku gambar saya ngga bagus-bagus banget. Namun jika melihat kebelakang, saya merasa sudah melakukan pembelajaran yang cukup baik. Begitulah.