Nov 15, 2013

Saya ingin bercerita

...tentang teman kos kami.
Bukan teman, sih. Karena kami tidak tahu nama mereka, dan saya rasa mereka juga tidak tahu nama kami. Kami hanya mengenal dari  kebiasaan mereka aja.

2 Anak SMA. Mereka melakukan segala hal bersama-sama. Berangkat sekolah bersama, pulang sekolah bersama, makan siang/malam bersama, mendengarkan musik berselera abg keras-keras bersama hingga ritual ngamplas bareng setiap malam.
Ketika saya bilang ngamplas, anda jangan membayangkan 2 anak abg berbaju flannel dan celana overall ala carpenter sedang menggosok potongan kayu dengan amplas (meskipun itu sangat menarik untuk dilihat, tapi) bukan itu. Amplas disini adalah Ambarukmo Plaza.

Si Tinggi Kurus, kamarnya berada di lantai 2 di dekat tangga, paling dekat dgn kamar mandi, wastafel dan tiang jemuran. Dilihat dari kepemilikan sepeda motor dan jajaran sepatu  yang membentang didepan kamarnya, dia anak orang kaya. Namun jika dilihat dari bahasa tubuhnya, cara ia berperilaku, mulai dari cara ia membuka kunci kamarnya, caranya berjalan, menyalakan mesin sepeda motornya hingga bertutur kata, dia kurang berpendidikan. Songong dan serampangan.

Si Pendek Kumal, kamarnya juga di lantai 2, tepat di atas kamar kami. Dari jajaran sepatunya, dia berasal dari keluarga dengan keadaan ekonomi yang biasa-biasa saja. Dia melakukan apa yang dilakukan oleh si Tinggi Kurus. Berusaha songong, berusaha serampangan. Padahal kelihatan bahwa itu bukan sifatnya. Hal ini terlihat jelas di akhir pekan. Saat si Tinggi Kurus sudah pulang kampung, si Pendek Kumal menunggu jemputan kerabatnya. Biasanya tiba-tiba ia jadi murah senyum.

Cukup terlihat hierarki-nya. Si Tinggi Kurus adalah Queen Bee (terlepas dr dia tidak cantik-cantik amat) dan si Pendek Kumal adalah wannabe / pengikut setianya. Si Tinggi Kurus menguasai kamar mandi dan tiang jemuran, Si Pendek Kumal pasrah menunggu sampai kamar mandi dan tiang jemuran kosong. Si Tinggi Kurus punya sepeda motor, Si Pendek Kumal bersedia ikut kemanapun Si Tinggi Kurus ingin pergi atau ditinggal begitu saja saat dia ia pergi sendiri.

Mungkin kalian bertanya-tanya, saya mau cerita apa sih? Sejujurnya, setelah menulis panjang diatas, saya jadi lupa. Nanti kalo ingat, akan saya lanjutkan ya. Saya mau ngamplas dulu. *pake baju flannel*