Nov 2, 2007

return

Sekali lagi, setelah beribu-ribu kali, aku membuka mata. Disini, ditempat ini. Dengan hal yang sama terjadi setiap harinya. Diantara langit dan rumput.

Aku mengerjap beberapa kali. Menikmati sinar hangat yang diberikan oleh alam yang baik, kebawah kulitku.
Aku menikmati tidur disini, daripada diatas tempat tidur empuk dan selimut hangat yang diberikan beberapa orang padaku, dengan beberapa tujuan. Banyak tujuan, bahkan.
Kuberi tahu sesuatu, tujuan hanya akan memberi predikat layak atau tidak.

Aku meregangkan otot, dengan rumput disela-sela lekuk tubuh dan jemariku.
Aku selalu berpikir, inilah tempatku! Atap langit, lantai rumput, lukisan pemandangan nyata dengan binatang dan segalanya bergerak. Inilah hidup yang sesungguhnya.

Aku menghirup setiap aroma yang tercium, diiringi desir daun disekelilingku. Aku memejamkan mata, sekali lagi. Kali ini kututup rapat-rapat. Mencoba menghilangkan ingatanku akan orang-orang yang mungkin mengkhawatirkan kewarasanku untuk selalu meninggalkan rumah dan kembali kesini.

Aku mencoba melupakan bagaimana bentuk rumahku, dan siapa saja yang tinggal disana.
Tapi aku tidak bisa menghapus pedih saat aku ingat bahwa tidak ada orang yang tinggal disana. Mereka hanya mampir.
Datang sejenak, kemudian pergi lagi.

Aku mengingat derum knalpot, pintu depan membuka, suara kunci koper ayahku, dan bunyi keresak kertas.
Aku ingat betul saat aku berjinjit membuka pintu dan menyapa “halo...” disusul dengan jawaban “sayang, ada hadiah diatas meja. Tengoklah”. Kemudian dia mencium keningku, dan menghilang dibalik pintu. Bersama kertas-kertas itu. Hingga saatnya bertemu lagi, dengan urutan yang sama, bahkan dengan kata-kata yang sama.

Aku duduk tegak, masih dengan mata terpejam. Menikmati hembusan angin yang menggerakkan rumput, mengusap kakiku. Mengingatkanku pada usapan yang sudah lama sekali pernah aku rasakan.

Mendadak mataku berair, mengingat seorang lagi yang datang dengan bunyinya yang jauh lebih kukenali, daripada wajahnya yang selalu tertutup oleh topi lebar. Aku membenci bunyi itu. Bunyi hak sepatu, membungkus tungkai indahnya.
Aku membenci bunyi itu, karena aku tahu, tidak akan terdengar lama. Bahkan tidak pernah mendekati pintu kamarku.

Aku menengadah, melihat seekor kupu-kupu melintas didepanku. Dia begitu tenang. Tegar. Tidak sepertiku, yang selalu marah saat semua tidak sesuai. Saat semua tidak ada.

Sampai suatu saat kemarahan membuatku membanting, melempar, menendang, memaki, berteriak, menyalahkan keadaan, hingga tak ada lagi yang bisa aku perbuat, kecuali lari.

Lari...lari...lari...

Tidak tahu arah, tidak tahu waktu. Hanya kemarahan yang menuntun, mengarahkanku dibawah kesadaran. Hingga aku lelah, berhenti, dan memandang sekitar.
Kemarahan telah membawaku kesini. Tempat sepi dimana tidak ada kata-kata. Tidak ada pura-pura. Hanya isyarat, yang bahkan terlalu lemah untuk diterjemahkan.

Aku yakin, jika kau berada disini, duduk, tidur, bangun ditempatku sekarang, kau akan mengerti.
Kau akan dapat mengingat apapun. Pedih. Marah. Bodoh. Nikmat. Air mata. Bahkan tiap tetes peluh.

Itulah mengapa aku terus pulang kerumah. Supaya aku bisa kembali kesini. Untuk kesekian kalinya...