Jan 13, 2015

1 day of fame.

Saya sedang tidak habis pikir. Tentang orang yang tidak seberapa bangga akan pekerjaannya, karena tidak ingin terbebani oleh tanggungjawab yang harus diembannya. 

Ada pula seseorang yang bangga akan profesinya, namun tidak memiliki etika dan tanggungjawab moral terhadapnya. 

Bagaimanapun, 2 tipe tersebut adalah termasuk tipe yang paling menyedihkan, menurut saya. Dan semoga dimasa depan, saya tidak harus berurusan dengan orang-orang semacam itu lagi.

Kenapa lagi? Iya, karena saya sudah memiliki pengalaman pahit terhadap keduanya. Dan kebetulan (atau bukan kebetulan?) mereka berasal dari satu institusi yang sama. 

Minggu lalu, saya menerima undangan wawancara dari salah satu media yang terkenal dan BESOAAARRRR di jawa timur. Karena sebelumnya sudah pernah bertemu singkat dengan sang wartawati, interview-nya berlangsung cukup lancar, ngobrol-ngobrol santai MURNI seputar profesi saya sebagai freelancer. suka duka dan tanggungjawab dibalik profesi saya. Diselingi dengan sesi pemotretan yang mengharuskan saya berpose cukup generik untuk media massa. "senyum", "lirik ke kamera" dan "tertawa lepas". Semacam itu lah. 

Selang beberapa hari, wartawati menghubungi saya lagi. Bertanya apakah boleh dia menyinggung tentang suami saya. Saya kuatir dong. Saya tidak ingin artikel ini terlihat seperti kolom "minta sumbangan" yang biasanya diakhiri dengan menyebutkan nomer rekening untuk 'uluran tali asih". 


Karena hidup ini indah, tentu saja ketakutan saya lah yang terjadi. Larut malam sebelum jadwal tayang, dengan cerianya dia mengirimkan preview dari komputernya. Terlepas dari foto saya yang "oh, no. kenapa rambut saya begini?", isinya 100% cocok dengan ketakutan saya + 10% karena semua berita sehubungan dengan penyebab penyakit bembi adalah 80% keliru! 

7 bulan tidak sadar, benar. Radang otak, benar. Sisanya? Sepertinya si wartawati sudah merasa kenal luar dalam dengan saya dan bembi. alih-alih bertanya pada narasumber, dia memutuskan bahwa asumsinya saja sudah cukup.

Beberapa kali di pertengahan tahun 2014, saya memang menulis sedikit tentang keadaan bembi di blog ini. Saya tulis dengan sedikit emosional, memang. Tapi juga dengan hati-hati. Eh, malah begini jadinya.

Ya marah, ya sedih. Malu? Sedikit.
Kecuali saya adalah selebritas sinetron, berita ini akan berlangsung ke acara-acara seperti silet atau semacamnya. Artikel tentang saya tentu akan dilupakan dihari berikutnya dan berakhir menjadi bungkus gorengan (atau pembalut, kata teman saya). 

Yang lebih menyiksa adalah rasa bersalah pada suami karena dia tidak tau apa-apa. karena saya sudah menjual drama tentangnya untuk konsumsi publik. Mungkin sebenarnya, publik tidak mengkonsumsinya. Itu tidaklah begitu penting.

Sebenarnya, yang saya permasalahkan hanyalah etika. Kalau memang rubrik yang ingin diangkat adalah sisi kemanusiaan dan drama, ya katakan dari awal dong. Jadi narasumber masih memiliki pilihan untuk menolak atau bersedia (memberikan informasi). Ini kan buat kredibilitas sang wartawan juga.

Beberapa teman meminta untuk untuk lapor, komplain dan somasi. dari koran kembali ke koran, begitu kata salah satu teman. Tapi sebaiknya saya relakan saja. Orang-orang yang mengenal kami tentu tahu bahwa berita blunder tersebut. Pun beberapa orang merespon tidak ada yang salah dengan artikel tersebut. Yo wis. Saya tidak punya waktu untuk membenarkan pikiran orang-orang yang lebih memercayai media massa daripada bertanya langsung pada kami. 

Mungkin, satu-satunya yang kurang adalah foto kondisi suami saya. Kalo bisa, malah yang sedang terlihat sakit. Semakin menderita, semakin bagus.

Akhir kata, terimakasih buat wartawati karena membuat saya tenar satu hari kemarin. Terimakasih karena bersedia repot-repot mengantarkan pelajaran besar dari semesta.
Saya doakan semoga mendapatkan karir cemerlang dibidang selain jurnalistik. Tidak ada yang lebih buruk daripada seorang jurnalis (atau profesi apapun) yang tidak memiliki hati dan otak menjalankan tugasnya.

ps. : maafkan jika tulisan saya berantakan. saya masih terpukul dan dirundung duka mendalam perihal penyakit suami saya hingga terlalu buntu untuk menulis dengan benar. ha!

sila membaca artikelnya disini
Eh, link diatas udah dihapus. Yang ada tinggal disini